Tak terasa, komunitas penulis yang bergabung di Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) sudah menjejak antologi ke-9 di semester terakhir 2025. Antologi penutup tahun yang mengambil tema tentang beragam pasar di bumi nusantara yang hingga kini eksis melayani masyarakat sekitarnya. Seperti apa dan apa saja yang tertuang di dalam buku ini? Yuk saya ajak Anda untuk mengupas isi buku ini lebih jauh
Jelajah Pasar Nusantara | Book Review | 2025
Saya baru saja usai menyelesaikan sebuah diskusi hangat dengan rekan penulis senior, saat ide mengangkat premis tentang pasar di nusantara terbungkus dengan rapi. Konsep manis pun kemudian terurai berikut dengan rangkaian rincian yang dibutuhkan agar antologi ke-9 PAPI ini bisa berproses dan dilahirkan dengan kekuatan presentasi yang mumpuni. Setidaknya bisa membawa serta sebuah pembuktian bahwa hasil karya (buku antologi) PAPI menjadi lebih baik dari masa ke masa.
Setelah sebelumnya PAPI menghadirkan berbagai topik menarik seperti kuliner, jalan-jalan, budaya, ulasan from zero to hero UMKM tanah air, dan sebagainya, di akhir tahun 2025 inilah ide untuk mengulas tentang pasar dimantabkan. Kala itu tak ada keraguan sedikitpun bahwa menghadirkan pengalaman menyusur setiap sudut salah satu pusat perdagangan di sepanjang negeri, bisa menjadi salah satu sumbu kecintaan kita terhadap kekayaan negeri sendiri.
Seperti yang saya duga, antusiasme para anggota komunitas pun menyambut rencana ini dengan suka cita dan semangat yang meluap-luap. Rencana ini ditanggapi oleh sekitar 24 orang penulis – anggota komunitas – meski akhirnya hanya 21 orang yang berhasil menyelesaikan tugas sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan. Mereka adalah: Annie Nugraha (saya sendiri), Teguh Sudarisman, Tanti Amelia, Salman Faris (Salmanbiroe), Raihana Mahmud, Lala Rahman, Ari Dian Aryono, Tri Suci A.S., Hani Widiatmoko, Christin Liem, Utami Isharyani Putri, Dian Radiata, Saskia Ichnati, Rurisa Hartomo, de Laras, E3Trip (Siendy), Ety Widihastuti, Ika Patte, Dilla NFD, Siska Meilanti, dan Katerina S.
Berbagi Pengalaman dari Berbagai Sudut Negeri
Konsisten di ranah non-fiksi, pengalaman pribadi adalah koentji dari setiap tulisan yang hadir di buku Jelajah Pasar Nusantara ini. Setiap diksi yang diluncurkan berangkat dari apa yang dirasa dan dilihat langsung oleh sang penulis, termasuk foto obyek bahasan yang menjadi pelengkap utama isi artikel. Ada unsur travel writing di sana termasuk melibatkan kemampuan menelaah, menelisik, memperhatikan, dan membangun komunikasi dengan (para) saksi hidup atau mereka yang menjadi bagian dari keseluruhan cerita. Apa yang terangkum lewat penyusuran inilah yang kemudian menjadi materi efektif untuk “dibungkus” hingga mampu mengupas semua kegiatan dan transaksi ekonomi di lingkungan pasar yang dimaksud.
Jika pun komunikasi langsung dengan obyek bahasan tidak terjadi, setidaknya para penulis menghadirkan beragam informasi yang digali secara digital, lewat wawancara atau bertukar cerita dan pendapat dengan kalangan terbatas. Mereka yang tahu persis akan sejarah dari pasar yang sedang diulas.
Rangkaian hal penting ini, saya dapatkan dari para penulis. Mulai dari membangkitkan rasa penasaran, beberapa kesan yang terbangun bertahun-tahun, bahkan secara bersengaja memunculkan kembali nuansa nostalgia agar bisa menyajikan “tulisan berisi” yang lebih dari layak untuk dibaca oleh banyak orang. Dalam berbagai artikel saya juga menemukan bagaimana sang penulis memiliki memori sejarah pribadi atas masakan atau makanan, atau tempat tertentu yang jarang digapai oleh orang kebanyakan. Tempat yang jauh dan butuh merogoh kocek dalam-dalam untuk tiba di sana. Seperti misalnya Batam, Balikpapan. Tidore, dan Ngrimase.
Sajian inilah yang kemudian saya kategorikan sebagai berbagi pengalaman tak ternilai dan terlalu sayang untuk tidak diwujudkan dalam rangkaian diksi kemudian dibukukan. Dari pasar buah di Berastagi – Tanah Karo, pasar batu (dengan nama Pasar Sayur) di Balikpapan hingga ke Tidore dan Ngrimase yang berada di Maluku Utara. Tapi semua atau setidaknya sebagian besar membahas tentang pasar tradisional. Sementara beberapa penulis ada yang meliput tentang pasar modern, pasar di kompleks apartemen, pasar burung, pasar yang jatuh bangun karena sulitnya kondisi perekonomian, dan tipe pasar lain yang jarang ditampilkan di lini media masa.
Membuka kembali lembar demi lembar buku Jelajah Pasar Nusantara dengan 25 artikel yang meliputi berbagai pasar dari berbagai daerah, kita diajak untuk menelusur dan turut merasakan begitu banyak hal yang bisa dikulik.
Saya sendiri menghadirkan tiga artikel dengan tiga tempat berbeda dan jenis pasar yang juga berbeda. Pertama tentang sayur lilin dan pasar Sarimalaha di Tidore – Maluku Utara. Kedua adalah pasar dadakan yang diadakan setiap hari Minggu di kompleks perumahan Permata Cimahi plus Kupat Tahu Permata yang legendaris di tempat yang sama. Sementara artikel ke-3 adalah pasar bunga Rawa Belong yang ada di Jakarta Barat. Ketiganya telah meninggalkan begitu banyak kenangan untuk diri saya pribadi. Tak hanya berbicara tentang keunikan tapi juga bagaimana banyak hal yang terjadi di sana menjadikan penjelajahan ke tiga pasar ini adalah bagian dari langkah-langkah berkesan dalam kisah perjalanan saya.
Bagaimana dengan para penulis lainnya?
Bertahun-tahun malang melintang dan bergulat di dunia kepenulisan, dua puluh kontributor lainnya adalah para penulis handal. Tidak ada keraguan sama sekali. Banyak di antara mereka terbiasa membersamai PAPI dalam melahirkan banyak buku antologi dengan topik yang beragam. Gak ada keraguan sedikit pun atas skill mereka dalam mengolah diksi, membangun cerita, mendapatkan informasi terkait, termasuk membangkitkan memori untuk disajikan kepada para pembaca. Alur cerita pun terbangun apik, lewat percakapan, bedahan memori, lewat ingatan dan kenangan lama, termasuk melukiskan bagaimana para pedagang ligat berupaya mencari nafkah meski bertahun-tahun tetap berada di tempat yang sama.
Derai keringat, mengais rezeki, dan usaha bertahun-tahun dalam berdagang, tentunya jadi rangkaian dan susunan kisah yang seru untuk dilamati. Pun ketika banyak pasar tradisional akhirnya berubah wajah menjadi pasar modern dengan konsep yang harus berkolaborasi. Nyatanya mencari rezeki di pasar tidaklah mudah. Ada jejak langkah lama yang harus dipertahankan sementara di sisi lain pasar harus membersamai perkembangan zaman agar tidak tergerus oleh berbagai pusat perbelanjaan dengan gedung tinggi dan fasilitas mewah serta kekinian.
Lalu apa yang membuat buku Jelajah Pasar Nusantara jadi produk literasi yang layak dibaca oleh orang banyak?
Setelah melewati delapan buah antologi yang hadir dengan belasan penulis, di seri ke sembilan inilah jumlah kontributor mengalami lonjakan angka yaitu dua puluh satu orang. Ada beberapa kontributor baru seperti Salmanbiroe, Lala Rahman, Hani Widiatmoko, Christin Liem, Utami Isharyani Putri, Saskia Ichnati, Ety Widihastuti, Dilla NFD, dan Katerina S. Sementara Teguh Sudarisman, Tanti Amelia, Raihana Mahmud, Ari Dian Aryono, Tri Suci A.S., Dian Radiata, Rurisa Hartomo, de Laras, E3Trip (Siendy), Ika Patte, dan Siska Meilanti, sudah pernah bergabung di beberapa antologi sebelumnya. Jumlah penulis ini tentunya menjadi penyemangat tersendiri bagi saya yang bertugas untuk menyunting dan mengatur tata letak tampilan buku.
Melewati berbagai format standard ukuran 13x19cm, di buku Jelajah Nusantara saya mencoba layouting baru untuk memberikan “efek penyegaran” bagi para pembaca. Susunan sajian kalimat dibuat seperti jurnal berbaris dalam bentuk kolom yang begitu berbeda dari buku-buku sebelumnya. Sementara konsep menampilkan foto berwarna di awal artikel tetap dipertahankan sebagai satu ciri khas penting dari buku-buku yang diterbitkan oleh PAPI.
Nilai terpenting yang membuat buku ini memiliki poin plus adalah tentang obyek pembahasan yang penuh warna yang kemudian disempurnakan dengan jalinan kata, kalimat, serta paragraf yang begitu cantik dihadirkan oleh semua penulis. Edisi long-lasting yang mudah-mudahan akan menjadi catatan sejarah jika di tahun-tahun ke depan barisan pasar ini mengalami perubahan baik dari segi fisik maupun siapa yang berdagang di dalamnya. Karena usia adalah bagian dari kurun waktu yang selalu hadir dengan berbagai kejutan. Hari ini ada di sini, bisa jadi esok hari sudah bergeser ke lokasi atau tempat lain.
Penasaran dengan apa yang “terhidang” di buku Jelajah Pasar Nusantara? Yuk jadi bagian dari eksistensi buku ini sekaligus keluarga besar Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI). Jadi pembaca tanpa menulis pun adalah barisan penting dari langkah-langkah yang (akan) PAPI ambil dan rencanakan ke depannya. Konsisten berkarya, menghasilkan buku-buku layak baca dan bisa menjadi manfaat bagi masyarakat luas.

IG @annie_nugraha | Email : annie.nugraha@gmail.com

