Hari masih pagi dan saya sedang berkutat dengan naskah sebuah sejarah saat Dudi Iskandar menghubungi saya. Dia menghadirkan sebuah diskusi hangat tentang buku solo yang ingin dia terbitkan bersama Annie Nugraha Mediatama. Bendera usaha penerbitan yang di awal 2025 ini hadir meramaikan dunia literasi tanah air
Membaca rangkaian tulisan draft yang dikirim lewat whatsapp dengan materi bahasan yang masih “mentah,” perhatian dan konsentrasi saya langsung teralihkan. Apalagi kemudian Kang Dudi, demikian saya memanggil beliau, menghadirkan banyak foto-foto ciamik dengan estetika tinggi yang dihasilkan dari jepretannya pribadi dan Abdullah Syamir Iskandar, sang putra yang juga menekuni dunia photography.
Rasa penasaran saya pun bangkit seketika.
Naskah demi naskah kemudian saya runut untuk mendapatkan benang merah yang menyambungkan antara satu ide dengan ide lainnya. Mencoba menangkap premis yang diuraikan hingga menemukan bahwa setiap lembar memiliki kekuatan cerita yang berangkat dari pengalaman pribadi selama beberapa tahun lewat.
Ah, akhirnya!!
Saya kemudian menangkap apa yang ingin diutarakan Kang Dudi lewat banyak lembaran tulisan yang diserahkan kepada saya. Buku yang akan lahir sesungguhnya adalah gabungan antara rangkaian karya visual dan kemampuan merangkai indahnya diksi yang lugas, simpel, dan mudah dipahami lewat tangan seorang lelaki berusia 55 tahun dan bapak dari tiga orang anak ini.

Menemukan “Sang Peracik”
Saat semua naskah telah utuh sampai di tangan saya kemudian dijahit satu persatu, sebuah rangkaian cerita pun terbentuk dengan sendirinya.
Saya terkesima dengan untaian kata dan rangkaian kalimat yang disiapkan oleh Kang Dudi. Sebagai seorang editor yang sudah mengerjakan sekian banyak buku, saya menemukan satu insight baru. Dunia seorang barista yang sarat dengan pengalaman. Seseorang yang sudah begitu berani mengambil keputusan penting dalam hidup dengan merubah profesi demi keterbelangsungan posisi sebagai kepala keluarga dan tanggung jawab menafkahi keluarga.
Semua cerita padat dan sesak makna pun kemudian menggelincir dengan indahnya di setiap halaman buku.
Mulai dari meneguhkan tekad mengalihkan profesi, mempersiapkan mental untuk memulai sesuatu yang baru, menguatkan niat untuk konsisten di bisnis ini, menabung banyak pengetahuan, mengatur dan mensiasati pendanaan, memiliki mesin untuk kegiatan operasional sehari-hari, hingga lahirlah Photo Coffee Roastery. Jenama resmi dari usaha Kang Dudi memproduksi kopi siap saji.
Satu demi satu ditata hingga akhirnya saya memutuskan bahwa judul “Sang Peracik” rasanya jauh lebih cocok dari “Terjebak di Dunia Hitam Kopi” yang sempat dipilih, diusulkan, dan dituliskan oleh Kang Dudi di lembaran naskah asli.
Mengapa? Menurut saya makna kata peracik cocok untuk mewakili sekian panjang cerita bagaimana Kang Dudi meramu kisah hidupnya. Dari seorang photographer professional yang harus banting setir menjadi barista karena hampir 3 tahun “dipaksa mengalah” dengan masa pandemi. Sebuah loncatan perubahan yang menuntutnya untuk kembali menata hidup dari tangga awal. Bagian inilah yang kemudian menjadi birama penting di dalam buku “Sang Peracik” untuk dibagikan kepada publik.
Baca Juga : Merajut Asa Lewat Buku “Meniti Waktu Merangkai Mimpi”

Tentang Sebuah Perjalanan dan Perjuangan Hidup
Dalam setiap teguk kopi, tersembunyi kisah panjang tentang perjalanan, pencarian, dan peracikan. Sang Peracik bukan sekedar buku tentang kopi, melainkan potret tentang manusia yang bertumbuh bersama proses. Lewat tulisan-tulisan yang lahir dari ruang sangrai, ruang batin, dan ruang harapan, buku ini mengajak kita merenungi ulang makna dari meracik. Tidak hanya sebagai ketrampilan teknis, tetapi sebagai cara hidup, meramu rasa, waktu, dan luka menjadi sesuatu yang bermakna.
Buku ini ditulis dari balik kepulan aroma kopi yang akrab, namun diiringi suara-suara hening yang jarang terdengar, kegagalan yang nyaris membuat berhenti, ketekunan yang terus diuji, dan rasa syukur yang hadir lewat sebuah seduhan. Rasa lahir dari dari pengalaman yang nyata membangun sebuah rumah sangrai kopi kecil bernama PHOTO COFFEE ROASTERY. Tempat berbagai cerita sederhana bertemu dan menyatu, lalu mengendap menjadi inspirasi. SANG PERACIK adalah upaya merangkai semua itu menjadi kisah yang bisa menemani siapa saja yang tengah meracik jalannya sendiri.
Dua paragraf yang dituliskan Kang Dudi untuk blurb buku “Sang Peracik” di atas, membuat saya termangu. Rangkaian kalimat yang ditata dengan sedemikian apiknya mampu meninggalkan kesan yang nancep banget di hati. Diksi yang terpilih pun membuat ke-2 paragraf ini terurai begitu eloknya. Mengajak kita untuk larut pada rasa dan asa yang menjerat hati dan langkah Kang Dudi selama meniti tangga dan membangun kerajaan kopi bernama Photo Coffee Roastery.
Saya yakin kondisi inilah yang membuat buku “Sang Peracik” memiliki value tak ternilai yang lebih dari layak untuk dimiliki oleh banyak pihak. Sebuah rangkuman jelajah hidup berikut dengan kisah jatuh bangun yang bertempur dengan berbagai hambatan, khususnya kondisi dan kesehatan fisik. Sebuah autobiografi mini yang justru menjadikan Kang Dudi, sang peracik yang bertahun-tahun terjebak di dalam dunia hitam kopi, menjadi sebuah legacy untuk keluarga dan dunia.
Selamat Kang Dudi Iskandar yang sudah menghadirkan sebuah buku, meramaikan meriahnya dunia literasi tanah air, yang terasa dan akan selalu istimewa ini. Terima kasih sudah menumpahkan rasa percaya kepada Annie Nugraha Mediatama untuk membidani lahirnya buku “Sang Peracik” dan mengizinkan Annie Nugraha Mediatama menjadi bagian penting dari sepercik langkah hidup dan memberitakannya pada dunia.
Baca Juga : Kisah di Balik Lahirnya Buku “Sepuluh Perempuan Bercerita”
Selamat membaca. Semoga setiap halaman dalam buku ini bisa menjadi teman seperjalanan, menyalakan kembali nyala kecil dalam dada, mengingatkan bahwa meracik adalah seni menemukan harmoni di tengah ketidaksempurnaan. Karena pada akhirnya, hidup pun seperti secangkir kopi pahit, hangat, dan selalu punya cara untuk dinikmati.
IG @annie_nugraha_mediatama_ | Email : annie.nugraha@gmail.com
Rincian Buku : SANG PERACIK | Penulis : Dudi Iskandar | ISBN : 978-634-04-0760-0 | Penerbit : Annie Nugraha Mediatama – Lippo Cikarang – Bekasi | Jumlah Halaman : 126 | Editor & Layouter : Annie Nugraha